Postingan

Latihan Penyesalan

Gambar
  Di kamar , Sam duduk di tepi ranjangnya. Ia mengangkat lengan kanan dan menekuk siku, mencoba meraih bola matanya yang sebelah kanan dengan jari – jari, berharap dapat dibuka dengan lebih lebar lagi. Tentu ini bukan pertama kali bagi dia, tiap hari juga melakukan hal yang sama. Meskipun tahu bahwa dalam keadaan bangun tidur tubuh belum dapat digerakkan dengan utuh, koordinasi otak yang belum stabil karena kesadaran yang belum pulih, otot – otot yang masih belum bisa menerima perintah dan sendi – sendi belum menempatkan diri pada pos – pos tubuhnya yang kecil. Namun, ia tetap menggerakannya perlahan – lahan, sedikit demi sedikit, atau, singkatnya : berusaha. Sam meraih segelas air putih di tepi meja yang terletak sebelah ranjangnya, jaraknya tidak terlalu jauh, dengan sedikit mengeluarkan tenaga untuk merentangkan tangan tentu dia dapat mencengkeram gelas tersebut. Mula – mula ia membuka penutup gelas dengan telapak tangan kiri, lalu dengan telapak tangan yang lain meminum air p...

Bagian – Bagian

Gambar
“If nothing saves us from death, at least love should save us from life.” – Pablo Neruda      1.        Menjadi Kesabaran Lama – lama angin juga bertiup menyapu luka yang telah kering dan jatuh berserakan dari pohon – pohon ingatan   Tanganku sepasang ranting patah yang telah hanyut menuju entah, kembali utuh dan menjadi lebih tabah   Kakiku akar – akar bercabang menancap dalam – dalam tumbuh kuat menjadi kesabaran        2.       Menjadi Doa Dalam telapak tangan yang terbuka ada sebuah ruang yang cukup untuk menerima segala   Air mata yang mengalir jauh – jatuh menjadi mata air yang membasuh segala sedih yang rusuh   Seperti daun – daun lepas dari dahan, selembar demi selembar harapan yang tumbuh jatuh beterbangan menjadi doa yang telah dipanjatkan        3.       Menjadi Tua Telah selesai tugasku   Menjadi seekor camar putih be...

Perpustakaan Manusia dari Blora

Gambar
“Hidup itu harus berani” sambil mengangkat pakaian yang Ia kenakan, bertulisakan sebuah kata – kata dari Pramoedya dan dengan sedikit tertawa “apa yang akan terjadi nanti, menang atau kalah, urusan lain lagi.” Sambil mengaduk segelas teh yang baru diseduh, kau melangkah menuju teras. Saat itu hari sabtu, cuaca agaknya terlihat cukup cerah, langit begitu terang dan angin berhembus pelan dari arah selatan; meniupkan apa saja yang ada dihadapannya. “Kita berangkat pukul sebelas saja.” kata Awan, sambil mengisap sebatang rokok yang ia kepit di dua jarinya, Lalu mengembuskan asap dari celah yang cukup lebar antara belah bibirnya. Dihadapan kami debu – debu sudah mulai beterbangan, daun – daun jatuh, dan orang – orang berlalu lalang di jalan. Namun yang kau bayangkan hanya apa saja yang perlu dibawa untuk perjalanan ke Blora, tempat tujuanmu. Setelah selesai meminum segelas teh, kau lanjut menyiapkan perlengkapan yang mesti dibawa untuk perjalanan, menumpuk bekal, dan membereskan kamar...

Ayat-Ayat Api: Menghidupi Hidup Hingga Ajal Menjemput

Gambar
  api adalah lambang kehidupan itu sebabnya ia tak bisa menjadi fosil   api adalah lambang kehidupan itu sebabnya kita luluh-lantak dalam kobarannya Pria itu memanggul megaphone kecil dibahu kirinya. Ia menggunakan jas yang biasa disebut almamater, mengatur barisan amarah siang hari itu. Udara panas dan kering, jalanan penuh dengan debu naik turun, membungkus apa saja yang dapat dijangkaunya: orang-orang demonstran, barisan motor pekerja kantoran, pedagang-pedagang asongan, harapan. Diiringi nyanyian yang tidak semua orang hafal, tapi cukup untuk membuat naik pitam, dan suara klakson kendaraan yang bersaut-sautan. Pria itu lantas berteriak diatas mimbar mobil pick up pinjaman. Saat itu awal September dan langit berwarna perak, tidak memantulkan apa-apa selain dosa manusia. Ia yang senang sekali mengakhiri kalimat yang dikatakannya dengan kata “Hidup!” memutuskan turun dari mobil pick up, menorobos kawat berduri, mencoba masuk pada gedung angkuh itu dengan mer...

Cinta Yang Marah : Percakapan Panjang Pikiran dan Perasaan

Gambar
  Sometimes love isn’t lovely. Pertama kali bertemu buku ini adalah saat berkunjung di perpustakaan umum yang baru saja dibuat seorang kawan, kami biasa memanggilnya dengan Wa Ipin. Wa Ipin menunjukan pada kami masing-masing sudut rak bukunya yang terbagi dari buku fiksi, non fiksi, dan lainya. Ditengah banyaknya macam-macam buku yang ada, saya langsung terpikat pada cover buku ini, dengan warnanya yang merah, berjudul cinta yang marah, dan diisi dengan potongan-potongan surat kabar peristiwa pada tahun 1998. Tanpa pikir panjang saya langsung menghampiri Wa Ipin untuk meminjam buku ini. Cinta Yang Marah , dengan judul dan cover yang tampak penuh dengan kemarahan yang meledak tersebut, awalnya saya pikir buku ini bakal berisi dengan tema politik semacam Wiji Thukul atau Agam Wispi. Ternyata pikiran saya terbantahkan, meski tidak sepenuhnya salah, karena buku ini masih dapat dikatakan dalam tema politik, “kritik cara Aan” Seperti yang dikatakan Irfan Ramli “bersembunyi dibalik cinta ...

Jangan Mati Dulu, Jangan Hari Ini

Gambar
  “Aku akan menyembuhkanmu” ucap laki-laki itu mendekap erat seekor burung di dadanya “Bertahanlah sebentar, sedikit lebih lama” sambil mengusap – usap kepala burung itu. Ia mengoleskan ramuan ajaib pada luka di kedua sayapnya. Burung itu bersiul atau merintih atau berdoa. “Akhmed . . .” ucap laki-laki itu. Rambutnya lepek, tubuhnya kecil namun kedua lenganya cukup kuat untuk memberi pelukan hangat “ijinkan aku memanggilmu, akhmed” ucap laki-laki itu. Di luar, di tepi pantai, awan – awan berwarna hitam, angin berhembus begitu kencang. Saat itu bulan Juni, dan hujan badai kerap turun beberapa kali. “Sabarlah . . “ kata laki – laki itu setelah diam sebentar “sehari demi sehari lagi . . . ” lalu berhenti, Ia menunduk dan tidak meyelesaikan kalimatnya lagi. Laki – laki itu membuka kedua telapak tanganya untuk merentangkan sayap – sayap burung, melihat baik – baik bagian mana lagi yang terluka. Tenaganya cukup besar, Ia hampir saja merentangkan kedua sayap itu terlalu lebar, t...

Singkong !

Gambar
Akhirnya aku memilih untuk membeli singkong!. Setelah menyambut pagi dengan gelisah karena ulah mimpi semalam. Aku mulai meneguhkan hati untuk mencoba mengganti makanan pokokku, yaitu nasi, dengan singkong. Akhir – akhir ini di tempatku hujan turun dengan rutin, tanpa jeda. Juga ibu, dari rumah selalu memberi kabar pagi kalo di kediamannya diguyur hujan dari malam belum berhenti. Dan kawan – kawan, satu per satu ada yang menjadi relawan ada juga yang menjadi korban kebanjiran. Barangkali karena hal itu, yang membuat aku cemas, hingga bermimpi kalo negara ini bakal dilanda kebanjiran yang merata, Gila !. Lalu, sawah – sawah tenggalam, tidak mampu lagi memproduksi beras. Dalam mimpi itu, aku sangat kewalahan, bayangkan bagaimana ketergantungannya aku pada butir – butir nasi untuk tetap hidup hari ini !. tentu itu membuatku sangat gelisah dan terbangun dari tidur dengan tidak tenang. Lalu aku mengingat pepatah lama, makan untuk hidup atau hidup untuk makan . Dan mulai mempetanyakan ...